![]() |
| (suasana halal bihalal warga RT 15) |
Mengusung tema “Bukan sekadar tradisi, tapi tentang memberi ruang untuk tetap menjaga hangatnya persaudaraan,” kegiatan ini menjadi simbol nyata keharmonisan dalam keberagaman. Warga dari berbagai latar belakang suku, ras, dan agama tampak hadir dan berbaur tanpa sekat, menciptakan suasana yang penuh kekeluargaan.
Dalam sambutannya, Prastowo menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga yang telah berpartisipasi aktif dalam menjaga kekompakan dan keharmonisan lingkungan.
“Melalui momen ini, kita membuka hati untuk saling memaafkan. Tidak ada perbedaan di antara kita, semua berkumpul dengan tujuan yang sama, yaitu mempererat persaudaraan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia juga memaparkan sejumlah capaian nyata hasil kolaborasi bersama warga. Di antaranya pembangunan gapura di beberapa gang sebagai identitas lingkungan, pembuatan tiga sumur resapan sebagai langkah antisipasi banjir, serta pembentukan dana pinjaman untuk mendukung pelaku UMKM di lingkungan RT 15.
“Meski nilainya belum besar, namun ini adalah langkah awal untuk membangun kemandirian ekonomi warga sekaligus menjadi wadah mempererat kebersamaan,” tambahnya.
Kegiatan tersebut semakin bermakna dengan tausyiah yang disampaikan oleh , Ketua Takmir Masjid Baitul Qadri. Dalam ceramahnya, ia menekankan pentingnya konsep ukhuwah dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia menjelaskan tiga bentuk ukhuwah dalam Islam, yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan karena agama), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan karena kebangsaan), dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan karena kemanusiaan).
Selain itu, ia juga mengangkat makna kata “lita’aarafu” (لِتَعَارَفُوا) yang berarti “untuk saling mengenal”, sebagai fondasi penting dalam membangun silaturahmi dan memperkuat hubungan sosial.
“Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri. Ini adalah inti dari ukhuwah Islamiyah dan akhlak mulia yang harus kita jaga bersama,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa keberagaman bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk saling melengkapi. RT 15, menurutnya, telah menjadi contoh nyata bagaimana toleransi dapat tumbuh dan terjaga dengan baik di tengah masyarakat yang heterogen.
“Pada dasarnya kita semua sama. Agama menjadi tuntunan dalam menjalankan keyakinan masing-masing, namun kebersamaan adalah jembatan yang menyatukan kita. Apa yang telah ditunjukkan RT 15, termasuk dalam kegiatan perayaan 17 Agustus tahun lalu, adalah cerminan toleransi yang harus terus dirawat,” tuturnya.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, gotong royong, dan rasa saling memiliki antarwarga. Di tengah perbedaan, RT 15 BHP justru membuktikan bahwa persatuan dapat tumbuh dari ruang-ruang sederhana yang dipenuhi keikhlasan dan saling pengertian.
Dengan semangat kebersamaan yang terus dijaga, RT 15 menjadi inspirasi bahwa harmoni dalam keberagaman bukan sekadar wacana, melainkan dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata sehari-hari. [ufq]









.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar