Bukan Sekadar Pawai, Ini Tentang Membangun Masa Depan

(Foto remaja dalam merangkai Ka'bah)
GENERASI muda ibarat gerbong-gerbong kereta yang penuh energi. Mereka memiliki tenaga, gagasan, dan keberanian untuk melaju jauh ke depan. Namun, tanpa rel yang jelas dan lokomotif yang mengarahkan, gerbong-gerbong itu bisa berjalan tanpa tujuan. Di sinilah organisasi remaja masjid hadir sebagai rel sekaligus lokomotif menjadi penggerak dan pemersatu generasi muda agar tetap berada di jalur yang benar.

Kita sering mengeluhkan kenakalan remaja, pergaulan bebas, kecanduan gawai, hingga lunturnya adab. Tetapi pernahkah kita bertanya: sudahkah kita memberi mereka ruang? Sudahkah kita mempercayakan tanggung jawab kepada mereka? Anak-anak muda tidak hanya butuh nasihat, mereka butuh kesempatan. Mereka ingin dipercaya, diberi panggung, dan dilibatkan dalam proses nyata.

Organisasi Remaja Masjid Baitul Qadri bukan sekadar wadah kumpul-kumpul. Ia adalah ruang belajar kehidupan. Di sanalah mereka belajar memimpin, bekerja sama, mengelola konflik, menyusun rencana, hingga menanggung risiko dari keputusan yang mereka ambil. Ketika kita memberi mereka pekerjaan dan membiarkan mereka mengelolanya, sesungguhnya kita sedang menanamkan karakter. Mereka belajar bahwa setiap ide butuh proses, setiap rencana butuh kerja keras, dan setiap keberhasilan lahir dari kebersamaan.

Momentum Ramadhan 1447 H menjadi contoh nyata. Para remaja diberi ruang untuk menyukseskan pawai Tarhib menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan yang dilaksanakan pada, Senin, 16 Februari 2026. Mereka menggambar desain miniatur Ka’bah, memotong kayu satu per satu, merangkai rangka, hingga menghias pernak-perniknya. Dari luar mungkin terlihat sederhana. Namun di balik itu ada proses pendidikan yang luar biasa. Ada kesabaran saat desain tidak sesuai harapan. Ada diskusi saat terjadi perbedaan pendapat. Ada kebanggaan ketika karya itu akhirnya berdiri kokoh.

Yang mereka bangun bukan hanya miniatur Ka’bah. Mereka sedang membangun diri mereka sendiri. Mereka sedang membentuk akhlak, menanamkan tanggung jawab, dan merasakan arti kebersamaan. Masjid mungkin menjadi lebih indah secara fisik, tetapi yang jauh lebih bermakna adalah tumbuhnya jiwa-jiwa muda yang lebih matang dan berakhlak.

Peran orang tua di sini sangat penting. Hadirlah mendampingi, bukan mendominasi. Arahkan, tetapi jangan mengambil alih. Terkadang, kita cukup menjadi penonton yang bangga. Biarkan mereka tampil sebagai regenerasi pejuang masa depan. Percayalah, ketika mereka diberi ruang untuk salah dan bangkit kembali, di situlah mereka belajar menjadi kuat.

Kekhawatiran terbesar kita adalah ketika mereka tidak disibukkan oleh hal-hal positif. Ruang kosong dalam diri remaja akan selalu terisi—jika bukan oleh kebaikan, maka kemungkinan besar oleh hal-hal negatif. Maka mari kita isi ruang itu dengan kegiatan yang membangun, dengan kepercayaan, dengan cinta, dan dengan tanggung jawab.

Remaja masjid adalah kereta penggerak itu. Jika relnya kokoh, jika lokomotifnya kuat, maka gerbong-gerbong muda ini akan melaju menuju masa depan yang cerah. Semoga gerakan kecil dari halaman masjid ini menjadi awal dari kebangkitan generasi yang bersatu, berakhlak, dan siap menjadi pemimpin umat di masa yang akan datang.

Kini saatnya kita bertanya pada diri sendiri: apakah kita hanya akan mengeluh tentang generasi muda, atau kita mau menjadi bagian dari gerakan yang mempersatukan dan membesarkan mereka?

Tulisan ini merupakan Opini dari Taufiqurrahman, dengan judul "Bukan Sekadar Pawai, Ini Tentang Membangun Masa Depan"

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

https://www.bhp.web.id/p/taufiqurrahman-inspirasi-kepemimpinan.html
http://picasion.com/
http://picasion.com/

Label